Kamis, 13 Mei 2010

Rabu, 12 Mei 2010

A Wish



we are different, yet we are walking on the same path, toward the same destination

Bandung, 14 Mei 2010


Tuhan yang kami sebut dengan berbagai nama, yang kami sembah dengan berbagai cara.
Terimakasih atas berkat yang Kau berikan, jauhkanlah kami dari percobaan.


taken from Cin(t)a The Movie

Jumat, 07 Mei 2010

Ular Stress, Mahasiswa Galau

ITB, 7 Mei 2010.

Gue ada di ruangan besar berkapasitas 200 orang di gedung kuliah yang dikenal dengan nama GKU (Gedung Kuliah Umum) Timur. Hari ini adalah hari terakhir kuliah di semester ini dan 1/3 bagian dari seluruh peserta kelas tidak hadir karena mungkin euforia hari terakhir kuliah bagi mereka sudah terjadi sejak beberapa hari yang lalu. Gue sendiri datang ke kelas terlambat dan hanya dengan separo hati. Separo hati gue yang lain masih terbaring malas di tempat tidur kosan, ga mau gerak. Hahaha.

Anyway, waktu sudah menunjukkan pukul setengah 2 dan tidak tampak kehadiran dosen maupun asisten. Peserta kelas, anak-anak teknik industri 08, sudah mulai menunjukkan kegalauan dan beberapa di antara mereka sudah mulai menunjukkan raut penyesalan 'anjir-mending-gue tidur-di-kosan-sampe-magrib' dan beberapa di antara mulai sibuk googling jadwal film yang tayang sejam ke depan di bioskop.

Di tengah-tengah kesibukan kelas yang tidak terlalu berarti tiba-tiba datanglah salah seorang temen gue yang bernama lala. Di tangannya dia memegang mahluk panjang, licin dan bersisik.

Bukan.

Lala bukan lagi megang belut air atau timun laut. Ini lebih mengerikan dari sekedar hewan bau amis yang bentuknya seperti pup itu. Hewan yang dibawa lala adalah uler.

Lala bawa uler. Atau uler dibawa lala? Either way, iya. Lala membawa uler. Dimana lagi mahasiswa teknik bawa ular saat kuliah? Mungkin cuma di ITB.

Anak kelas mulai mengelus, mengendus (ini terdengar horor), menggerayangi (dan ini terdengar vulgar) dan memegang uler lala yang ternyata bernama jumbo itu secara bergantian. Poor jumbo. Dia cuma bisa pasrah saat tangan anak kelas menjulur-julur ke arahnya, megang-megang badannya yang bersisik secara ga jelas. Beberapa di antaranya, para cewe, jerit-jerit ketakutan, tapi tangan mereka tetep asyik megang badan si uler. Ketakutan apa keasikan sih? Hmm. Menarik.

Ih ihh dia liatin gue, jerit salah satu cewe TI dengan centilnya.

Anjir lidahnya melet dong, temen gue yang lain berkomentar.

Foto gue bareeng uleer dooong, kata salah satu temen gue dengan labilnya. Buset, lama-lama ini kelas jadi kaya show reptil ragunan di mana kita bisa foto gratis bareng uler.

Eh, jangan terlalu kasar, nanti dia stress, kata Fahri, salah satu temen gue. Ah. Ternyata cuma Fahri yang punya perikehewananan.

Ga berapa lama, dosen pun datang. Ga tanggung-tanggung 2 dosen untuk mata kuliah yang sama datang pada waktu yang bersamaan. Anak-anak yang tadinya mendadak sibuk berkenalan dan bersenda gurau dengan ular lala merasa makin galau. Waktunya tidak tepat, Pak, Bu, kami sedang asyek bermain dengan uler. Kenapa diganggu. Mereka mungkin berujar dalam hati.

Kasian sekali teman-teman gue. Sedikit-sedikit dibuat galau.

Lebih kasian lagi itu uler lala. Mimpi apa dia semalam sampai-sampai jumat siang harus ikut kuliah Proses Manufaktur selama hampir 2 jam bersama seratus lebih mahasiswa labil.

2 jam kemudian saat kuliah selesai, gue dan temen-temen gue berhamburan ke luar kelas tanpa ingat sedikitpun pada Jumbo yang sekarang mungkin tengah mengalami depresi akut.